Senin, 23 November 2020

my first article

 

Duniaku Bersama Covid-19

Oleh: Nur Laeli

 

            Pertengahan bulan Maret 2020 adalah sebuah awal perubahan besar yang terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali di indonesia dan lebih kecil lagi didaerahku Brebes tercinta, kota kecil penuh makna dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya yang harus ikut terkena imbas penyebaran virus Covid-19 yang cukup banyak berdampak di segala lini.

            Ya, Covid-19 telah merubah hampir seluruh tatanan hidup masyarakat kita, termasuk di dalamnya lingkungan pendidikan yang kemudian harus menyesuaikan diri dengan program belajar online dengan berbagai macam romantikanya dan sangat susah untuk di terapkan di sekolah pedesaan seperti di sekolahku, yang hampir 80% penghasilan orang tuanya dari bertani dan menganggap Handphone (HP) adalah barang mewah yang tidak terlalu penting dalam kehidupan mereka.

            Berbicara tentang Covid-19 memang tak pernah ada habisnya, bahkan sampai saat ini setelah kurang lebih 8 bulan Covid ada di Indonesia, dunia pendidikan seakan tak bisa berbuat banyak dengan maraknya perubahan yang terjadi di berbagai sisi kehidupan, dari banyaknya pabrik yang gulung tikar, pemutusan Hubungan Kerja (PHK) , perekonomian yang terasa mencekik bagi mereka yang papa, serta dunia pendidikan yang bersedih dengan menjamurnya generasi bangsa yang tak sedikit mengalami degradasi moral akibat ketergantungan tinggi pada benda kecil yang di sebut Handphone dengan berbagai efek buruknya.

            Baiklah para pembaca yang budiman saatnya kumulai kisah duniaku selama kurang lebih 8 bulan bersama covid 19. Namaku Nur laeli  salah satu guru Madrasah Tsanawiyah (MTs.) di lingkungan Kementerian Agama Brebes. Aku ingin menceritakan duniaku dalam melewati masa pandemi yang sudah kita alami bersama sampai saat ini. Boleh dibilang aku hanyalah salah satu dari banyak orang yang berusaha berbagi hal-hal  yang dialami selama masa Covid ini melalui sebuah coretan. Dan aku berharap apa yang akan aku ungkapakan nanti dapat menjadi pemacu dan penyemangat para pembaca semuanya untuk tetap menjalani dunia kita meski masih harus bersanding bersama virus kecil yang tak terlihat dengan kasat mata ini, yang kita kenal dengan nama virus corona atau Covid-19.           

Januari 2020 pertama kali aku dipindahtugaskan di MTs. Minhajush Sholihin Sigentong di madrasah yang baru memiliki 2 kelas kecil, yaitu kelas VII dan kelas VIII. Segala keterbatasan  ada di madrasah yang baru berdiri jalan 2 tahun ini, karena semuanya benar-benar di mulai dari nol  baik sumber daya manusia maupun sumber daya materiil nya. Tapi aku selalu yakin dan percaya Allah akan terus menuntunku untuk mewujudkan madrasah ini menjadi madrasah yang maju dan mampu bersaing dengan madrasah/sekolah lainnya, tentunya dengan saling bergandengan tangan bersama seluruh warga madrasah baik pihak sekolah, yayasan maupun masyarakat sekitar.

            Ketika tiba-tiba kami harus berjumpa dengan era pandemi di bulan Maret 2020 dan semua dunia pendidikan dirumahkan, seolah semua rencana, impian dan cita-cita yang sudah kususun harus diperlambat lajunya. Bahkan tidak cuma diperlambat tetapi juga digagalkan begitu saja. Beberapa agenda kegiatan madrasah harus rela ditahan dan ditunda sampai dengan waktu yang tidak bisa ditentukan. Miris, sedih dan terasa terbelenggu akan semua yang biasanya normal dilakukan tiba-tiba harus berubah dari kebiasaan.

Namun demikian “life must go on”, kami harus siap menjalankan instruksi ulil amri/ para pemimpin kami dengan berbagai aturan baru di dunia Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), diantaranya mengajar dengan Sistem online / Daring ( dalam jaringan) memakai E-Learning dan tidak boleh bertatap muka seperti biasanya, dengan maksud demi untuk menghindari penyebaran virus covid 19.

Hal ini mau tidak mau memaksa guru, siswa dan orang tua untuk lebih mendekatkan diri dalam dunia perhandphon-an dan perkuota-an . Orang tua siswa pun mencoba segala cara, ada yang meminjam HP pada tetangganya, ada yang menyuruh anaknya bergabung dengan temannya dan ada juga yang ahirnya membelikan HP untuk anaknya agar dapat mengikuti pembelajaran online meski dengan kondisi perekonomian yang sulit dan bahkan banyak orangtua yang juga ikut serta mengerjakan tugas-tugas dari sekolah anaknya.

Sebagai Guru kami pun demikian, harus menyiapkan materi/bahan ajar online dengan menggunakan berbagai media seperti video di youtube, power point, pesan suara dan atau juga bisa berbentuk dokumen/word,  yang kemudian di bagi lewat whatssap grup. Kami juga harus siap untuk selalu mengisi kuota agar tetap bisa berkomunikasi dengan siswa baik di waktu pagi,siang bahkan malam hari jika ada pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Jadi sangat tidak mungkin kalau guru kemudian dianggap makan gaji buta selama pandemi seperti cuitan yang pernah ada di media sosial tentang profesi guru.

Alhamdulillah belakangan akhirnya ada bantuan kuota gratis dari pemerintah untuk guru dan siswa. Namun hal tersebut  tidak serta merta mempermudah perjalanan kami, karena sekali lagi permasalahnnya tidak cuma di kuota saja melainkan karena tidak memiliki HP dan jenuh dengan materi dan tugas yang diberikan hanya melalui tatap maya tanpa tatap muka.

Muncul masalah lagi ketika saatnya musim pelaksanaan penerimaan peserta didik baru ( PPDB) yang juga harus dilakukan secara online. Karena tidak semua sekolah dapat memberikan informasi sekolahnya lewat media sosial seperti Facebook (FB), Whatssap (WA), instagram atau media lainnya, apalagi  bagi kami sekolah di desa kecil seperti kami yang mayoritas penduduknya hanya para buruh tani dan pedagang kecil.

 Beruntungnya, sebelum sekolah diinstruksikan untuk libur karena pandemi, sekolah kami sudah terlebih dahulu mengadakan sosialisasi PPDB di beberapa SD/MI di sekitar sekolah dan selanjutnya di masa pandemi kami melakukakan sosialisasi dengan cara door to door datang langsung ke rumah-rumah calon siswa yang saat itu kebetulan dalam kondisi shaum ( puasa ) Ramadhan . Sungguh hal yang sangat mengesankan dan perjuangan yang luar biasa bersama teman-teman demi mendapatkan jumlah siswa baru yang diharapkan .

Daaan....Masya Allah atas ijin Allah justru tahun pelajaran ini kami bisa mendapatkan 40 siswa baru di kelas VII yang artinya 2x lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 18 siswa. Sujud syukur aku di hadapan Allah atas kemurahan dan kasih sayang-Nya karena telah menjawab doa-doa kami untuk mendapatkan siswa yang lebih dari tahun sebelumnya. Aku sangat yakin bahwa “usaha memang tak bisa membohongi hasil” dan ketika Allah sudah berkehendak maka yang terjadi, terjadilah, “Kun fayakun”....

Masalah tidak berhenti sampai disitu, yaitu ketika kami investigasi dari 40 siswa baru ini juga hanya sekitar 15 siswa saja yang memiliki Handphone (HP) dan tidak semuanya bisa mengakses dengan baik karena keterbatasan cara menggunakan, keterbatasan membeli kuota dan keterbatasan lainnya,apalagi mereka masih masa peralihan dari anak-anak ke remaja. Sedangkan di sisi lain  kita dituntut aturan untuk tetap menggunakan sistem KBM online atau daring ( dalam jaringan) selama masa pandemi belum berahir.

Dengan mengucap Bismillah akhirnya kami mencoba selama kurang lebih 1 bulan untuk melaksanakan pembelajaran dengan sistem KBM sesuai yang diinstruksikan pemerintah meski hanya menggunakan Via grup Whatssap kelas untuk mengirim materi dan tugas siswa. Sedangkan bagi siswa yang tidak memiliki handphone bisa belajar bersama atau bergabung dengan teman satu kelasnya yang dekat rumah dan memiliki fasilitas handphone.

 Namun ternyata hal ini tidak bisa berjalan sesuai harapan dan sangat kecil untuk dilanjutkan karena siswa yang bisa mengikuti tidak lebih dari 30 % saja dari kelas VII,VIII dan IX, itupun jika mereka masih punya kuota, belum lagi rasa malas dan jenuh mereka ketika mengerjakan tugas dan membaca materi di WA grup. Sedangkan siswa yang tidak mengikuti atau tidak mempunyai handphone malah merasa tidak punya beban dan kewajiban mengikuti pembelajaran.

 Pilihan kedua pun diambil untuk mengadakan pembelajaran mentoring/ pendampingan dengan cara siswa datang ke madrasah secara kelompok kecil dan bergantian (shifting) untuk diberikan kesempatan menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan materi yang ada dalam buku panduan mata pelajaran yang sudah dibagikan ke siswa. Waktu pelaksanaanpun sangat terbatas sekitar 1-2 jam saja dan tentunya kami instruksikan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, menyiapkan sabun cuci tangan dan sanitasi air, serta tidak bergerombol terlalu lama di madrasah.

Cerita berlanjut pada kisahku sebagai “tenaga baru di madrasah baru ” yang langsung dihadapkan dengan Era pandemi dengan berbagai permasalahannya. Saat pembelajaran online mulai digalakkan akupun berangan-angan bisa memberikan pelatihan pembelajaran berbasis online pada guru-guru di sekolahku agar pembelajaran tidak menjemukan siswa maupun guru karena selama ini hanya menggunakan media whatssap saja.

Aku awali dengan mengikuti beberapa pelatihan online diantaranya dengan menjadi anggota tahunan di “pelatihan E-guru dengan pelatihan yang pernh aku ikuti antara lain : penggunaan google site, google classroom, edmodo dan kahoot.  pelatihan lain pun saya ikuti seperti pembuatan Blog dasar atau satu guru satu blog ( Sagusablog) yang diselenggarakan oleh IGI , serta webinar-webinar yang berjam ataupun tidak berjam yang diadakan PGRI maupun lembaga lainnya. Tentunya hal ini kulakukan untuk dapat memperkaya pengetahuanku yang sedang semangat-semangatnya memperoleh ilmu dan memanfaatkan waktu luang di masa pandemi.

Sungguh dengan mengikuti beberapa kegiatan pelatihan itu aku merasa pandemi ini begitu indah dirasakan dan dinikmati daripada harus terus mengeluh dan bahkan tenggelam dalam buaian pandemi yang terlalu lama. Karena tak dapat di pungkiri pandemi ini sedikit banyak sudah melemahkan semangat bekerja dan pola hidup kita sehari-hari sebagai pendidik. Berbekal curiousity (keingintahuan)  dan karena aku ingin belajar lebih banyak tentang dunia media pembelajaran online yang saat ini sedang banyak di galakkan, akupun mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak semua orang mau melakukannya karena dianggap sulit karena pemberian pelatihan lewat online ditambah pengumpulan tugas-tugas pelatihan yang harus sesuai deadline.

Di usia yang beranjak kepala 4 ini rasanya memang sudah agak malas untuk berfikir yang rumit-rumit, tapi hal ini kulakukan atas dasar kebutuhan untuk mengetahui dan mempelajari hal-hal baru di luar sana yang ternyata begitu amat sangat luar biasa kemanfaatannya. Aku merasa menjadi orang bodoh ketika menyadari banyak hal yang belum  aku jamah selama ini di duniaku, yaitu “Dunia Pendidikan”.

Namun sayangnya fakta berkata lain, hal yang sudah kuperoleh dengan mengikuti beberapa pelatihan tersebut  hanya sedikit yang dapat kubagi ke teman-teman, karena beberapa faktor yang kurang mendukung seperti motivasi dan semangat teman-teman untuk belajar beberapa aplikasi pembelajaran  yang baru belum tergugah betul , atau juga karena mungkin merasa kemanfaatan aplikasi-pembelajaran online  tidak bisa diaplikasikan ke siswa kami, karena keterbatasan siswa  yang memiliki Handphone. Dan...pada akhirnya kami pun harus kembali ke pembelajaran pendampingan/mentoring dan Luring (luar jaringan) .

Semangatku meredup karena tidak ada tempat untuk mengembangkan apa yang sudah aku dapatkan dalam pelatihan-pelatihan yang aku ikuti, seolah tak ada tempat untuk ditularkan dan berbagi. Kemudian pada ahirnya akupun lupa dengan sendirinya apa yang sudah aku perjuangkan karena tidak di praktekan lagi. Kemalasan pun melanda tertimbun dengan kegiatan saya sebagai ibu rumah tangga dan juga tugas-tugas madrasah lainnya heeee.....

Sehingga pada ahirnya Aku bersyukur ketika  bertemu dan bergabung dengan grup menulis “Antologi Penulis Brebes”, yang di pandu mba Nikotiana dan timnya. Sesaat saya merasa dibangunkan dari sebuah kekecewaan bahwa masih ada cara dan tempat untuk berkarya di era pandemi ini, bahwa dunia tak sesempit yang dibayangkan. Cita-citaku untuk  dapat menulispun dapat tersalurkan disini. Meski masih awam dan tergolong pemulaa dalam menulis, aku tetap berharap ini adalah awal yang baik bersama orang-orang yang baik.

Sedikit hal yang ingin saya tambahkan juga dalam cerita ini, bahwa saya pernah ikut membantu sebuah program melayout buku-buku karya guru di salah satu media pengembangan menulis untuk para guru, namun hanya beberapa bulan saja karena sesuatu hal saya harus berhenti untuk memberi kesempatan pada yang lainnya. Hal itu juga lah yang mendorong saya untuk bisa mempnyai karya sendiri agar ada yang bisa saya jadikan bukti dan sejarah dalam kehidupan saya  selama masa covid berlangsung apa yang sudah saya lakukan. Terkungkung kah? Terbenam dalam kemalasan kah? Atau justru menmbuat semuanya lebih indah. Hmm... “hidup memang penuh dengan pilihan”

Berbekal dari suka membaca, akupun termotivasi oleh para penulis untuk belajar menjadi penulis dan akhirnya saya berusaha menorehkan kata per kata, kalimat per kalimat agar bisa menjadi sebuah cerita nyata yang  di ceritakan dalam bentuk tulisan ini, dengan harapan orang yang membaca dapat termotivasi untuk berbuat sesuatu untuk irinya sendiri dan bisa jadi untuk orang lain dalam menyikapi masa pandemi. Karena di luar sana masih banyak yang menganggap masa pandemi ini adalah waktunya mengistirahatkan diri dari rutinitas bekerja yang dirasa terkadang menjemukan dan mengekang, sehingga tidk memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata.

Melalui whatssap grup (WAG) ‘Antologi Penulis Brebes” ini saya punya harapan besar dengan bertemu dan menimba ilmu dengan orang-orang hebat yang punya banyak karya tulisan ini, saya dapat belajar mengolah kalimat dalam sebuah tulisan yang dapat menjadi kenangan hidup saya dan bisa dibaca dan dinikmati orang lain, karena pada dasarnya semua orang punya kesempatan untuk mengukir cerita dalam kehidupannya baik itu hal yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Sikapi situasi pandemi ini dengan bijak agar duniamu dan dunia covid 19 tidak menjadikan kreatifitas dan semangatmu ikut mati di telan waktu begitu saja.

Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya, sehingga saya bisa merangkai kalimat dalam tulisan ini meskipun sangat jauh dari kata sempurna. InsyaAllah saya akan terus belajar menjadi lebih baik lagi. Aamiin.

 

                                                PROFIL PENULIS

 

Nur Laeli, beliau adalah guru yang di perbantukan (DPK) di Kementerian Agama Kabupaten Brebes selama kurang lebih 16 tahun dan saat ini  diberi amanat untuk membantu mengembangkan sebuah  madrasah baru di desa Sigentong Wanasari Brebes yaitu MTs. Minhajush Sholihin Sigentong. Selain itu penulis juga aktif di kepengurusan Persatuan Guru Indonesia (PGRI) ranting khusus Bulakamba serta tercatat sebagai anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Brebes juga.

Pendidikan S1 penulis di tempuh di Universitas Muhammadiyah Puwokerto Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidkan FKIP jurusan bahasa inggris dan lulus pada tahun 2001, sedangkan pendidikan S2 ditempuh di Universitas Widyadharma Klaten jurusan Bahasa konsentrasi Bahasa Inggris, lulus pada tahun 2016. Beberapa pelatihan pernah diikuti penulis untuk menambah wawasan keilmuan di bidang pendidikan sesuai kapasitasnya sebagai seorang pendidik.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar